Minggu pagi hari, ngga seperti biasanya, gw udah rapih, siap menuju Jakarta. malem minggunya udah batalin acara nonton konser Backbone di Depok, demi bisa bangun pagi. Datengin tetangga dulu. Eh semuanya pada ngebatalin, ya sudah berangkat sendiri aja deh. Okey sampe lokasi acara, tepatnya Monas. Agak heran juga, pas di Monas ko yang banyak umbul-umbulnya "Pegadaian", mana umbul-umbul acara yang akan gw ikuti?. mari kita putari Monas dulu deh. Akhirnya sampe juga tepat di venue acara. Saatnya mencari meja registrasi. Yang pertama gw samperin meja registrasi media. Kok ngga ada untuk komunitas yaaaa, gw cari lagi meja registrasi yang lain. Ketemuuu, "Apaaa...." ngga kaget sih. "Silakan mas membeli dua strip aja senilai Rp. 25ribu, baru akan mendapatkan t-shirt dan tempat air minum" kata mbak-mbak yang jagain stand. "I'm being RED in the middle of BLUE" karena t-shirt yang didapat dari sponsor acara warna biru, hahahaa... Yups gw kecewa, saatnya pulang!!! kalo kata temen gw "saya akui konsep'a bgus, pngunjung'a pun bnyak. Tp eksekusi'a g bgus."
'Son-nim,' bahasa Korea untuk 'pengunjung,' yang berarti 'orang asing dari luar daerah.' Kata ini juga mereferensikan untuk hantu yang melakukan perjalanan dan muncul pada hari-hari tertentu untuk mengganggu aktivitas manusia. Ketika orang-orang memilih tanggal untuk acara besar seperti pindah rumah atau pernikahan, mereka selalu memilih hari ketika 'pengunjung' tidak sedang berada di sekitar, menurut cerita rakyat di Korea yang diyakini hingga sekarang. Dalam The Piper, seorang musisi pengembara, Woo-Ryong tiba dengan anaknya di sebuah desa terpencil di pegunungan yang tidak ada di peta. Kunjungan tidak terduga mereka dianggap nasib buruk oleh penduduk desa. Tema dan motif yang diambil dari cerita anak-anak yang familiar di Jerman, 'The Pied Piper of Hamelin'. Bersetting di abad pertengahan, seorang walikota dari Hamelin bermasalah dengan wabah tikus yang menghabiskan semua makanan dan bahkan menyerang orang-orang. The Piper datang menawa...
Komentar
Posting Komentar